Pandemi membuat seluruh lini kehidupan mengalami perubahan. Bagaimana tidak, kita semua dituntut untuk memerangi benda kecil yang tak terlihat bernama virus. Covid-19. Hal itu merubah semua situasi yang sudah ada menjadi luar bisa. Luar bisa perbedaanya.
Tatap muka menjadi tidak bisa, hanya tatap layar satu sama lain yang dapat dilakukan. Sungguh miris situasi dua tahun ke belakang. Untungnya, saat ini situasi semakin terkendali. Kasus mulai mengalami penurunan. Akhirnya, terjadi kelonggaran celana peraturan yang membuat manusia dapat bergerak sedikit lebih bebas.
Salah satu peraturan yang dilonggarkan adalah mudik. Kita sebagai perantau dapat merasakan pulang ke kampung halaman lagi di waktu lebaran setelah vakum dua tahun. Tahun kemarin, terjadi penyekatan dimana-mana. Bahkan, di rumah gue pun baru mau keluar rumah tidak bisa. Ternyata gue dikunciin sama nyokap dari luar. Hehe.
Sebenarnya gue baru saja pulang ke kampung halaman bulan Agustus 2021 kemarin tetapi suasananya berbeda karena tidak sedang fitri. Bukan, bukan cinta fitri tetapi Idulfitri. Tahun ini, akhirnya gue kembali merasakan momen lebaran yang gue alami dua tahun kemarin.
Momen Idulfitri bersama keluarga besar adalah momen yang dirindukan oleh gue yang mungkin juga banyak orang setelah dua tahun ‘dikurung’ di dalam ‘rumah’. Jujur, selama dua tahun lebaran di rumah aja, salah satu ketakutan gue adalah ketika sedang Sholat Id. Takutnya terjadi kesalahan takbir karena rakaat pertama 7 kali, sedangkan rakaat kedua 5 kali.
Mungkin ini rahasia kita-kita saja yang baca ini. Setiap lagi Sholat Id, baik Idulfitri atau Iduladha, gue merasa terjadi kekurangan atau kelebihan saat takbir. Gue enggak tahu apakah hitungan gue dan bokap gue yang kebetulan menjadi imam sholat berbeda atau enggak. Tapi, seringnya tidak pas. Sedangkan gue Sholat Id di kampung kemarin, hitungan gue pas.
Jadi, bukan masalah takbir sebenarnya tetapi sholat berjamaah bersama-sama di kampung adalah momen yang dirindukan. Urusan takbir ketika Sholat Id di rumah, itu bokap yang handle. Walaupun agak-agak takut juga, sih.
Dalam hati gue merasakan haru karena akhirnya terjadi lagi Sholat Id berjamaah di masjid, terlebih masjidnya adalah di kampung halaman. Gue kira hal ini tidak akan terjadi lagi, nyatanya gue masih bisa merasakannya. Setelah Sholat Id, gue makan dulu di rumah, padahal belum maaf-maafan sama keluarga, eh, tiba-tiba datang beberapa tamu yang ingin silaturahmi sekaligus bermaaf-maafan.
Ketika sudah kenyang, keluarga gue pun melakukan sungkem. Diawali nenek gue yang sungkem ke kakek, kemudian bokap yang sungkep ke kakek dan nenek gue, disusul nyokap yang sungkem. Sampai ketika gue lagi sungkem ke kakek gue, gue kira tidak ada sepatah dua patah kata, eh, ternyata ada sedangkan tangan gue sudah pindah ke tangan nenek gue. Akhirnya, salaman pun gue bagi dua. Tangan kanan ke kakek, tangan kiri ke nenek. Bokap dan nyokap gue malah tertawa melihat kondisi itu. Gue bingung.
Akhirnya pepatah kakek sudah selesai, gue sungkem ke nenek gue, kemudian bokap dan ke nyokap. Momen ini juga yang sudah dua tahun tidak dilakukan karena biasanya melalui Video Call. Setelah sungkem ke kakek nenek dari bokap, gue pindah ke rumah nenek dari nyokap yang kebetulan lokasi gak jauh tetapi harus naik kendaraan.
Sudah ramai di rumah nenek dari nyokap dengan saudara-saudara gue. Kebetulan, nyokap gue lima bersaudara sedangkan bokap cuma satu. Jadi, keluarga nyokap lebih ramai dan kebetulan tahun ini pada pulang kampung semua. Jadi, tambah ramai lah suasananya. Dua tahun kemarin, silaturahmi ini dilakukan secara virtual. Huh, sungguh haru.
Di rumah nenek gue pun melakukan prosesi sungkem-sungkeman lagi, sesudah itu, gue dan saudara-saudara gue berkeliling ke rumah saudara gue yang lebih tua di sana, yaitu rumah Pak De gue. Tiba lah di rumah Pak De gue, ternyata di sana ada keluarga gue yang lain. Akhirnya kami semua berkumpul di sana dan berfoto-foto ria. Jujur, kejadian ini terjadi dua tahun lalu. Serasa de javu.
Gara-gara virus kurang ajar, momen tersebut tidak terjadi dua tahun ke belakang. Puji syukur kita panjatkan kepada Allah Swt. karena berkat rahmatnya, lebaran kali ini grafik kasus semakin menurun. Kita semua dapat melakukan lebaran lebih aman dan nyaman. Ditambah lebih bahagia karena mengobati rasa rindu kita selama dua tahun ‘libur’ lebaran karena silaturahmi dilakukan dengan menatap layar. Dari layar ke layar.
Mungkin itu momen yang gue rindukan selama lebaran yang tidak terjadi dua tahun ke belakang, yaitu Sholat Id dan silaturahmi kepada keluarga gue secara tatap muka. Apa momen yang kalian rindukan? Tidak perlu ditulis di kolom komentar tetapi tulis saja di blog kalian. Tapi, kalau mau komen juga gak apa-apa juga, sih, hehe.
Leave a Reply