Gak nyangka ternyata udah sampai sejauh ini. Akhirnya gue sudah merasakan yang namanya tingkat akhir dan sampai ke titik semester akhir. Ya, semester genap tahun ini gue sudah semester akhir di mana gue harus menyelesaikan skripsi. Gue masih inget banget awal-awal perjuangan gue untuk melanjutkan pendidikan setelah duduk di bangku sekolah. Mulai dari sekolah kedinasan, universitas, sampai ke politeknik. Sedih, kecewa, sudah menjadi makanan gue setiap melihat hasil pengumuman ujian. Ucapan penolokan dari beberapa pengumuman sudah gue lewati sampai akhirnya gue menemukan nama gue di daftar lampiran surat pengumuman mahasiswa diterima.
Politeknik Negeri Jakarta. Tempat terakhir atau titik terakhir gue berjuang untuk mendapatkan pendidikan tinggi setelah sekolah. Kampus ini menjadi kampus negeri pilihan terakhir gue karena gue enggak boleh keluar kota. Padahal, banyak kampus di luar Jakarta yang menjadi tempat pilihan gue menuntut ilmu. Tapi gak apa-apa, restu Allah adalah restu orang tua. Jika orang tua bilang enggak, maka enggak.
Sebelum mendaftar untuk terakhir kali di Politeknik Negeri Jakarta, ada beberapa kampus swasta yang sudah gue survei. Namun, hati kecil gue masih mengharapkan kampus negeri. Walaupun sebenarnya sama saja di tiap kampus akan bayar tetapi di kampus negeri masih mendapatkan harga miring. Akhirnya gue mencoba untuk ujian mandiri di Politeknik Negeri Jakarta. Singkat cerita, gue lolos dan diterima di program studi pilihan terakhir.
Waktu itu gue mendaftar program studi Teknik Informatika, kemudian Teknik Multimedia dan Jaringan, terakhir adalah Teknik Multimedia Digital. Program studi yang gue harapkan adalah Teknik Informatika tetapi takdir berkata lain, gue diterima di pilihan terakhir. Gak apa-apa. Buktinya gak kerasa sudah sampai di semester akhir.
Kalau diingat-ingat waktu awal kuliah, adaptasi gue cukup sulit karena gue masih ingin merasakan seru-seruan di bangku sekolah. Gue tipikal orang yang sulit untuk move on, jadi kenangan-kenangan di sekolah masih teringat di kepala setiap pulang kampus. Eh, ternyata semua itu berhasil dilewati sampai tiba di waktu sekarang.
Memasuki tingkat akhir, dimulai dari kegiatan magang di perusahaan. Sebelumnya, gue mau mengucapkan alhamdulillah sekali gue sudah mendapat kesempatan bekerja di salah satu instansi pemerintah sebagai tenaga teknis. Gue enggak nyangka bahwa waktu itu di suatu sore mendapat chat dari kakak tingkat gue yang kebetulan pernah mengerjakan suatu project bersama. Ternyata, gue diajak untuk bekerja di salah satu instansi karena sedang membutuhkan tenaga. Awalnya gue enggak percaya karena kakak tingkat gue ini enggak deket-deket banget sama gue. Sampai akhirnya gue bertemu dan bisa bekerja sampai sekarang. Nanti akan gue ceritakan lebih detail di lain waktu soal gue bekerja.
Tingkat akhir gue dimulai di semester tujuh. Di mana salah satu tugas besarnya di semester itu adalah magang. Gue magang di kantor gue mengerjakan salah satu pekerjaan yang rutin gue dan tim lakukan, yaitu membuat podcast. Awalnya gue kira akan mudah tetapi sulit-sulit juga karena membutuhkan beberapa referensi. Gue sangat lemah untuk mencari daftar pustaka. Mungkin bagi sebagian orang membuat tinjauan pustaka mudah, “Ah, tinggal copas di jurnal, langsung jadi.” Tapi, bagi gue enggak, Melakukan browsing jurnal kesana kemari cukup berat. Ditambah dengan beban pekerjaan utama gue, semakin sulit menemukan jurnal yang sesuai.
Singkat cerita, gue bisa melewati semester tujuh ini dengan membuat laporan magang dan dinyatakan lulus ketika sudah dilakukan pengumuman nilai tiap semester. Kemudian, gua mulai deg-degan lagi karena di semester delapan, adalah permulaan memulai perjalanan skripsi.
Waktu itu, jadwal yang diberikan oleh jurusan gue sangat padat. Akhir bulan Januari pembagian nilai semester tujuh, awal bulan Februari sudah mulai bimbingan. Bahkan, gue tidak merasakan yang namanya libur semester. Cukup hectic sekali karena baru selesai mengerjakan laporan magang, eh, sudah disuguhi menu proposal skripsi. Kebetulan, pembimbing skripsi gue sama dengan pembimbing laporan magang gue. Jadi, seenggaknya gue dan dosen gue ini sudah ada chemistry.
Gue mengerjakan skripsi tidak sendirian tetapi berkelompok untuk membuat sebuah virtual exhibition, semacam kita memasuki dunia dongeng yang mana nantinya di dalam dunia tersebut kita dapat melakukan beberapa hal, seperti menonton dongeng dan interaksi bersama hewan-hewan yang ada di dunia itu. Teman-teman gue yang sekelompok sama gue adalah Jihan dan Denef. Kenapa gue pilih dua orang itu karena udah enggak ada teman gue lagi yang mau sekelompok sama gue. Gak deng.
Sebenarnya, gue bertiga ini seringkali berkelompok dari semester-semester pandemi alias semester covid karena seringnya dosen-dosen di kampus memberikan tugas kelompok berjumlah tiga orang. Nah, dari obrolan-obrolan tugas kelompok, kadang juga menyinggung skripsi. Sampai akhirnya, kita membuat sebuah perjanjian tidak tertulis bahwa nanti ketika mengerjakan skripsi akan berkelompok lagi. Jadi, makanya kelompok skripsi gue adalah orang-orang yang sering berkelompok sama gue.
Dari proyek besar tadi, tiap orang dibagi-bagi pekerjaannya apa saja sesuai dengan porsinya masing-masing. Karena gue adalah orang yang sering memberikan semangat, jobdesk gue adalah memberikan semangat kepada dua teman gue agar cepat menyelesaikan skripsinya. Penelitian gue nantinya adalah meneliti kedua teman gue bagaimana efek psikologis seseorang ketika mengerjakan skripsi berkelompok. Apakah akan lebih mudah atau sulit. Canda.
Kebetulan gue kebagian buat membuat sebuah ruang virtual yang aset-asetnya dari teman gue. Bahasa mudahnya adalah gue menjadi pengepul bahan-bahan yang akan ditampilkan di dunia dongeng. Selain itu, gue juga yang membuat cara user atau pengguna aplikasi dapat menggunakannya dengan mudah.
Balik lagi ke pembuatan proposal skripsi, gue dari awal sering berdebat dengan dosen pembimbing gue karena kita berdua belum satu visi dan misi. Penelitian yang gue ambil adalah pendidikan karakter di mana pendidikan karakter itu sangat luas dan tidak cukup dilakukan penelitian dalam satu bulan. Dosen pembimbing gue menyarankan untuk konsultasi ke psikolog kira-kira seberapa lama karakter seseorang itu dibentuk.
Namun, gue jelaskan dan yakinkan bahwa tidak perlu membawa pakar psikolog dalam skripsi gue ini. Tujuan gue tidak sejauh itu. Hanya apakah anak-anak PAUD yang menggunakan aplikasi gue ini bisa paham dengan dongeng yang diberikan serta tahu apa isi cerita dari dongeng yang disampaikan. Ditambah, terdapat pendidikan karakter yang ada pada dongeng tersebut, apakah nantinya anak-anak tahu apa saja baik dan buruk dari karakter dongeng yang ada. Cuma itu.
Akhirnya, dosen gue pun luluh setelah melakukan negosiasi dan gue dikasih saran olehnya. Ibaratnya gue dan dosen pembimbing gue menemukan win win solution gitu. Walaupun begitu, perdebatan belum selesai karena dosen gue masih ingin berbicara sama gue lagi setelah sidang proposal skripsi.
Hari sidang proposal skripsi pun tiba. Gue adalah tipikal orang yang santai awal-awalnya. Namun, last minute jantung gue berdebar-debar karena takut nanti ditanya aneh-aneh oleh dosen penguji. Sampai-sampai, gue main UNO dulu setengah jam sebelum sidang.
Ketika waktu sidang tiba, gue menarik nafas panjang, keluar pelan-pelan dari pantat hidung, sidang pun dimulai. Gue masuk ke ruang zoom dan langsung disambut oleh panitia sidang. Panitia sidang menyuruh gue dan teman-teman gue berdiri, tanda bahwa pakaian yang gue kenakan harus sesuai dengan peraturan yang ada. Setelah itu, gue dan teman-teman gue di-invite ke breakout room Zoom di mana waktu itu sudah ada dosen penguji dan dosen pembimbing gue.
Sidang pun agak sedikit terlambat karena menunggu salah satu dosen pembimbing teman gue. Ya, gue berkelompok tiga orang tetapi punya dosen pembimbing masing-masing. Setelah semua lengkap, sidang dimulai. Gue mulai membuka sidang dengan ucapan salam. Presentasi pun dimulai dan berjalan dengan lancar. Waktu tanya-jawab dengan dosen penguji, gue sedikit panik.
Dosen penguji gue ada dosen biasa, ketua program studi gue, dan sekretaris jurusan. Bener-bener deg-degan, sih, karena ditanyanya mulai dari hal kecil aja harus ada artikel ilmiah atau penelitian sebelumnya yang mendukung jawaban gue. Enggak bisa menjawab hanya dengan pemikiran gue aja. Semua harus based on article. Semacem harus ada alasan kuat, lah, kenapa gue bilang begitu.
Setelah kurang lebih setengah jam A I U E O, akhirnya gue disuruh keluar dulu dari breakout room karena dosen penguji dan dosen pembimbing masih diskusi terkait kelulusan kami. Gue kira menunggunya lama, ternyata cuma sekitar lima menit, langsung dipanggil lagi.
ALHAMDULILLAH.
Ketua dosen penguji saat itu memberikan informasi kalau kami lulus dengan revisi. Revisian yang gue ingat adalah revisi latar belakang, yaitu revisi alasan atau mengapa membuat produk tersebut serta solusi apa yang ingin diberikan. Dengan lulusnya sidang proposal skripsi gue, maka perjalanan skripsi gue berlanjut. Semoga lancar sampai nanti lulus dan jika ada kendala dapat teratasi dengan baik dan bijak. Aamiin.
Ada tips and trick gak, nih, dari kalian yang pernah mengerjakan skripsi?
Leave a Reply