Tidak ada kata yang dapat terucap selain “Alhamdulillah”. Gimana enggak, akhirnya kegiatan gue dalam menuntut ilmu (walaupun ilmu gak salah) di bangku perkuliahan, selesai. Ya, gue lulus kuliah juga setelah melalui perjalanan panjang dan pelik. Gak kerasa banget 4 tahun sudah gue menjalani kehidupan kampus.
Gue jadi kebayang gimana awalnya gue bisa keterima di kampus ini. Kampus yang menjadi tempat gue belajar selama 4 tahun ini adalah kampus terakhir dari ujian-ujian masuk kampus yang gue ikut. Mulai dari seleksi rapot, tes Seleksi Bersama Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), ujian sekolah kedinasan, sampai akhirnya ujian mandiri lolos di kampus ini. Gak gak, gue gak mau bahas itu, gue mau ngebahas singkat tentang pengerjaan skripsi.
Penentuan kelulusan gue ditentukan oleh satu semester yang gue lakukan untuk membuat project, testing project, penelitian, dan pembuatan laporan. Hal itu yang menjadi tolak ukur gue layak lulus atau tidak. Jujur, selama pembuatan project, dapat dibilang enggak lancar karena gue kerjakan sembari dengan pekerjaan yang sudah gue jalani setahun ke belakang.
Setelah tulisan gue terakhir di bulan Mei 2022 tentang kelulusan sidang proposal skripsi, drama perskripsian ini baru terjadi dengan dosen pembimbing gue. Bagaimana enggak, ternyata pemahaman konsep aplikasi yang gue rancang itu berbeda jauh dengan apa yang diharapkan oleh dosen pembimbing gue.
Ketika lagi bimbingan skripsi pertama, yang dilakukan adalah pemberian wejangan dari dosen pembimbing dan laporan apa saja yang direvisi pada proposal skripsi. Pada bimbingan pertama, masih aman tidak ada kendala. Gue pun melanjutkan skripsi dengan senang gembira sampai kepada proses untuk pembuatan project.
Pada bimbingan keempat ketika sudah mulai menampilkan aplikasi, gue berdebat dengan dosen pembimbing gue. Ekspektasi dosen pembimbing gue terlalu tinggi. Gue hanya bisa mengerjakan project dengan tingkat kesulitan 40 tetapi dosen gue berharap gue bisa mengerjakan sampai tingkat 90. Cukup jauh ditambah waktu dan alat yang tidak memadai saat itu.
Beberapa kali bimbingan, selalu ada perdebatan di antara kami berdua. Ujung-ujungnya, dosen pembimbing gue memaklumi atas pembuatan aplikasi gue yang tidak terlalu kompleks. Bukan hanya tingkat kesulitan, di akhir-akhir waktu, takut juga mepet dengan waktu deadline pengumpulan berkas skripsi.
Kira-kira satu bulan sebelum proses pendaftaran skripsi, aplikasi yang gue kembangkan belum jadi. Gue dan teman sekelompok gue, Denep dan Jian, pada kebakaran jenggot. Pekerjaan gue bisa dilakukan setelah proses pengerjaan mereka selesai. Istilahnya seluruh aset yang akan dikembangkan pada aplikasi, berdasarkan dari hasil mereka berdua.
Maka, gue panik yang kebagian proses akhir, mereka sudah selesai, nanti gue masih mengerjakan. Waktu terus berjalan tetapi tidak ada progress yang signifikan. Setiap pulang bekerja, gue selalu menyicil bagian jobdesk gue. Tidak lupa juga gue cicil laporan skripsi karena dosen pembimbing gue selalu menagih setiap sedang bimbingan.
Singkat cerita, aplikasi sudah siap dicoba, gue pun mulai mempersiapkan diri ke PAUD daerah Depok, Jawa Barat. Kenapa ke PAUD? Karena aplikasi yang gue kembangkan difokuskan untuk pembelajaran di PAUD. Persiapan yang gue lakukan adalah berkoordinasi terlebih dahulu dengan pihak PAUD, kemudian memberikan arahan-arahan apa saja yang dilakukan pada saat proses penelitian kepada kepala sekolah. Untungnya, PAUD tersebut dapat diajak kerja sama dengan baik.
Jujur, senang sekali penelitian di PAUD karena anak-anak di sana lucu-lucu dan kebetulan aktif ketika ditanya-tanya. Hal itu memudahkan gue dan kelompok gue mendapatkan data untuk mendukung penelitian skripsi. Ya, walaupun banyak serunya tetapi tetap ada hal yang membuat lelah. Kurang lebih selama dua jam, gue dan kelompok gue menjadi guru di sana untuk proses pembelajaran karakter dari hewan di hutan virtual.
Setelah melakukan penelitian dan mendapatkan data, gue langsung mengebut menyelesaikan laporan. Bagian ini adalah bagian paling menegangkan karena dosen pembimbing selalu menagih dan menanyakan sudah sejauh mana progress penyusunan laporan. Beberapa hari sebelum deadline, gue memberikan draf naskah laporan gue ke pembimbing. Ternyata masih terdapat banyak revisi. Gue pun langsung mengubah laporan sesuai arahannya.
Waktu semakin dekat dengan deadline, ketika gue mengumpulkan kembali hasil revisian gue yang kedua kalinya, tiba-tiba dosen gue dengan santainya menjawab, “Oke, kamu langsung aja daftar sidang. Senin, ya.” Waktu itu adalah hari Sabtu. Mendengar itu dada gue langsung bunyi ‘DEG!’. Gue pun mengabari kelompok gue dan mereka juga kaget. Soalnya kami semua memiliki dosen pembimbing yang berbeda, sedangkan ketika sidang skripsi kami harus bersama. Jadi, kadang suka ada perbedaan. Dosen gue siap, dosen mereka belum, begitu pun sebaliknya.
Akhirnya, setelah proses A I U E O, pengumuman jadwal sidang skripsi keluar. Gue selalu berdoa bahwa semoga sidang skripsi di hari Jumat sore. Kenapa? Karena sudah mendekati weekend dan bisa langsung istirahat besoknya tidak terpikirkan kerjaan lagi. Untungnya, doa gue itu terkabul. Gue mendapatkan jadwal sidang hari Jumat, 12 Agustus 2022 pukul 13.00.
Gue berangkat dari pagi dengan perasaan cemas, deg-degan, panik, takut, pokoknya gado-gado, deh. Di satu sisi, gue juga senang karena mau lulus. Setelah ibadah Jumat, gue langsung siap-siap menggunakan pakaian putih hitam dan masuk ke ruang sidang bersama teman kelompok gue.
Seluruh dokumen skripsi telah gue siapkan. Dosen penguji satu per satu masuk. Dosen pembimbing? Dari ketiga dosen pembimbing, hanya satu yang datang menemani sidang gue. Awalnya gue santai untuk memulai sidang sampai ada dosen penguji yang bertanya, “Kalian ini siap sidang gak, sih?”
Dosen penguji bertanya seperti itu karena dokumen pendukung skripsi tidak gue taruh di mejanya. Hanya eksemplar skripsi gue aja. Oh iya, dosen penguji skripsi ini sama dengan dosen penguji sidang proposal skripsi. Bedanya, waktu sidang proposal secara online, ini langsung tatap muka. Nyalinya benar-benar diuji.
Was wes wos was wes wos *ceritanya lagi presentasi skripsi*
Selesai presentasi, tiba tanya jawab bersama dosen penguji. Pertanyaan pertama dari dosen penguji yang killer, “Kamu ngapain di sini?” Setelah gue jelaskan sampai mulut berbusa, katanya jobdesk gue masih kurang. Mendengar itu gue bingung harus apa karena dari awal sudah disepakati bagian gue. Lagipula, ternyata ekspektasi yang gue buat tidak sesuai dengan yang dosen penguji gue bayangkan. Banyak sekali aspek yang membuat ekspektasi itu tidak terjadi.
Gue pun menjawab semua pertanyaan semampu dan sepengetahuan gue. Waktu sesi tanya jawab sidang, karena kami sekelompok, dosen penguji lebih sering bertanya ke masing-masing orang sesuai dengan jobdesk-nya. Walaupun sistem kerjanya berkesinambungan, tetap ditanyakannya satu per satu.
Setelah semua ditanya, kami dipersilakan keluar sidang untuk menunggu sembari dosen penguji berdiskusi tentang hasil sidang skripsi gue. Entah ini sebuah musibah atau berkah, tiba-tiba ketika gue lagi menunggu, listrik di kampus mati. Jadi, ruangan menjadi tidak nyaman karena air conditioner (AC) mati. Kemungkinan gue menunggu tidak lama, dan benar, tidak lama setelah itu, gue dan kelompok gue dipanggil kembali masuk ke ruangan.
Di sini jantung mulai berdebar-debar. Gue sudah yakin banget bakalan lulus tetapi gue gak tahu nantinya apa aja yang akan direvisi. Hal itu yang bikin gue deg-degan. Lemas, tak berdaya, semakin tak bisa apa-apa ketika gue dan kelompok gue ditanya, “Siap jika tidak lulus?”
Kami semua diam, sampai akhirnya gue jawab, “Siap.” Padahal mah dalam hati enggak sama sekali. Bayangin aja, kuliah 4 tahun, ketika sidang hasilnya gak lulus. Pikiran gue saat itu sudah membayangkan, gue bakalan berkutat lagi untuk mengerjakan skripsi di setiap malam. Pusing ketika aplikasi gak bisa berjalan sesuai rencana. Lalu kepikiran apakah nanti akan melakukan penelitian kembali.
Akhirnya, dosen penguji pun membacakan hasil sidang dengan gaya bicara layaknya juri Indonesian Idol. Puji syukur, kami semua lulus bersyarat dengan revisi yang cukup banyak buat gue. Dari kami bertiga, nilai gue yang paling rendah karena revisiannya paling banyak. Mungkin memang ini konsekuensinya karena mengerjakan kurang maksimal.
Tapi gak apa-apa, revisi hanyalah revisi, tinggal dibenahi. Alhamdulillah, akhirnya lulussssss. Huaaahhh. Senang dan sedih bercampur menjadi rasa syukur. Semua bisa berjalan walaupun tidak maksimal dan sesuai rencana tetapi Tuhan punya jalan terbaik untuk umatnya. 🙂
Setelah perjalanan naik turun di bagian skripsi, akhirnya selesai juga dunia perkuliahan sarjana ini. Namun, rasanya lulus kuliah tidak semeriah dari lulus sekolah. Bahkan, rindu suasana kampus pun tidak seheboh rindu ke sekolah. Kenapa begitu, ya?
Leave a Reply