
Banyak mungkin di antara teman-teman semua yang memiliki hobi membaca. Entah itu membaca caption postingan di Instagram, membaca thread di Twitter tentang cerita horor atau cerita diajak bermalam bersama selebgram atau mungkin membaca artikel di beberapa situs anak muda atau situs lainnya.
Tapi, ada berapa banyak dari teman-teman yang masih suka membaca buku fisik? Mungkin tidak sebanyak membaca tulisan yang saya sebut di paragraf sebelum ini bukan? Saya yakin banyak sekali alasan untuk kalian tidak membaca buku. Padahal, ketika kalian membaca buku fisik, secara tidak langsung kalian sedang melatih otak kita agar bekerja dengan baik. Dengan membaca buku fisik juga dapat menjaga kesehatan mata karena sinar dari layar handphone sebenarnya cepat merusak mata kita.
Ketika saya masih duduk di bangku sekolah, guru saya tidak bosan-bosannya mengatakan rajin-rajinlah membaca buku karena saat itu budaya literasi ingin ditingkatkan. Mau buku fiksi atau nonfiksi, bacalah. Karena buku adalah jendela dunia. Mungkin terdengar basi akan ungkapan tadi. Tapi, memang benar buku adalah jendela dunia.
“Tapi, kan ada Mbah Google yang dapat kita gunakan untuk menjelajah dunia?” Pasti pertanyaan itu muncul di era digital seperti ini. Ya, itu benar. Walaupun begitu, bagi saya pribadi membaca artikel di Google dan di buku sangat berbeda. Entah kenapa ketika kalian membaca buku, ada beberapa ilmu yang tidak kalian duga akan kalian baca. Sedangkan di internet mungkin kalian hanya ingin mencari tahu apa yang kalian inginkan saja.
Saya tidak melarang buat kalian membaca atau mencari informasi di internet. Tidak juga berkata bahwa internet itu salah tetapi buku selalu benar. Tidak. Akan tetapi saya menyarankan untuk membaca buku karena informasi yang diberikan lebih lengkap dan lebih dalam. Oleh karena itu saya mengajak kepada kalian untuk yuk membaca buku fisik kembali, jangan hanya membaca lewat handphone dan internet saja.
Apa yang membuat kalian malas atau sulit untuk membaca buku fisik? Sebagai manusia yang pernah merasakan hal itu, mungkin jawaban kalian dengan saya tidak jauh berbeda. Pertama, buku itu mahal. Ya, kenyataannya memang begitu. Satu buku fisik sekarang harganya bisa di atas Rp50.000,-. Pasti anak-anak sekarang akan berfikir dua kali untuk membeli buku atau membeli kuota internet. Tapi tenang, masih banyak juga kok promo-promo di toko buku yang menjual buku dimulai dari Rp10.000,-. Asalkan kita niat mau membaca buku, pasti ada jalan.
Kedua, tidak ada waktu untuk membacanya. Bagi saya, ini adalah alasan-alasan klasik bagi semua orang termasuk saya sendiri. Tidak ada waktu. Padahal, semua orang memiliki waktu yang sama, yaitu 24 jam. Bagaimana orang yang rajin membaca buku dapat meluangkan waktunya ketika mereka juga sedang sibuk? Jika kalian bisa membagi waktu dengan baik, pasti ada waktu untuk membaca buku.
Ketiga, malu. Mungkin sebagian orang dan saya sendiri terkadang malu untuk membaca buku. Apalagi di tempat umum karena bisa mencuri perhatian orang banyak. Selain itu juga takutnya ketika kita sedang membaca buku nantinya dianggap sok pintar atau yang lain. Ternyata, pikiran itu harus kita hapus. Jangan malu dan jangan takut, hidup ini adalah hidup kalian, bodo amat lah dengan lingkungan sekitar. Bodo amat bukan berarti tidak peduli tetapi nyaman saat menjadi berbeda. Kalimat sebelum ini diambil dari buku Mark Manson berjudul ‘Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat’. Tambahan, jika takut dianggap sok pintar justru karena kita masih membaca buku berarti kita belum pintar.
Jadi, yuk kita membaca buku lagi. Minimal satu bulan sekali lah membaca buku. Tidak ada uang untuk membeli? Oleh karena itu pemerintah dan mungkin sekolah atau kampus memberikan fasilitas bernama perpustakaan. Kita bisa meminjam buku gratis di sana.
Ngomong-ngomong, foto di atas adalah buku saya di tahun 2019. Saya cukup bangga kepada diri saya sendiri karena baru empat bulan di tahun ini sudah 7 buku yang saya baca. Padahal, saya tidak menargetkan apapun di awal tahun. Sedangkan tahun kemarin, satu buku saja belum tentu saya baca setiap bulannya. Mungkin memang sudah jalannya seperti ini. Kalau kamu bagaimana? Berapa banyak buku yang sudah dibaca?
Yuk, baca buku!
Leave a Reply